Teknik Feynman, Teknik Untuk Belajar Lebih Efektif

The Feynman Technique, Teknik Untuk Belajar Lebih Efektif

Pernah gak sih kamu ngerasa udah sangat memahami sebuah materi pelajaran tertentu? misalkan mengenai Sindrom Munchausen dalam kajian Psikologi.

Tetapi ketika disuruh menjelaskan kepada orang lain, eh malah langsung ngeblank seolah-olah materi itu hilang dari otak kita.

Seseorang yang mengaku sudah menguasai sebuah materi, seharusnya mampu menjelaskan materi yang ia pahami itu kepada orang lain.

Sesekali waktu okelah mungkin kurang konsentrasi dan fokus, tetapi jika hal ini terjadi beberapa kali? malah membuat orang tersebut jadi malas belajar, karena merasa apa yang dilakukan sia-sia.

Apakah kamu pernah berada diposisi itu?

Jika kamu pernah atau sedang berada dalam posisi itu, berarti cara belajar kamu masih belum efektif.

Kamu gak usah sedih, karena pada faktanya banyak anak-anak bangsa Indonesia yang mengalami hal serupa dengan yang kamu alami.

Menurut survei yang dilakukan Zenius Education Center, "metode pembelajaran yang tidak efektif dan membosankan membuat murid jadi malas belajar".

"If you can't explain it simple, you don't understand it well enough". Jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu tidak memahami sesuatu itu dengan cukup baik. Itulah yang dilontarkan oleh Albert Einstein.

Jadi solusinya apa?


Solusinya adalah sebuah teknik yang dirancang oleh seorang ahli Fisika pada bidang konsentrasi Elektrodinamika Quantum, yang meraih nobel pada tahun 1965 bernama Richard Feynman, ia membuat sebuah teknik bernama "The Feynman Technique" atau "Teknik Feynman".

Richard Feynman pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang keren "If you want to master something, teach it".

Jika kamu ingin menguasai sesuatu, ajarkanlah itu kepada orang lain. Dan dari ungkapan itulah lahir teknik belajar Feynman ini.

Cara kerja dari teknik Feynman itu sendiri adalah dengan menjabarkan materi yang ingin dikuasai pada secarik kertas, seolah-olah kamu sedang menjelaskan kepada anak kecil berumur 6 tahun.

Mengapa anak kecil? ini dikarenakan anak kecil selalu memiliki pertanyaan yang sangat kritis dan terkadang sulit untuk dijawab atau bahkan tak masuk akal.

Sehingga mau gak mau kamu harus memahami suatu materi sampai ke akar-akarnya dong.

Kunci dari teknik ini adalah, Keep it Simple!

Ya, jadi kamu harus menjelaskan apa yang kamu pahami dengan bahasa yang sangat sederhana. Selayaknya menjelaskan kepada anak umur 6 tahun.




Teknik ini memungkinkan kamu untuk lebih mudah dalam memahami suatu materi dan mengevaluasi sejauh mana pemahaman kamu terhadap materi tersebut, jadi belajar kamu bisa lebih efektif.

Richard Feynman, selain dikenal sebagai seorang Fisikawan. Dia juga diberi julukan "The Great Explainer" atau Si Pemberi penjelasan yang hebat, hal ini dikarenakan dia selalu bisa menjelaskan materi dengan sangat sederhana dan mudah dipahami, meskipun materi itu sebenarnya sulit.

Jadi begini ritual melaksanakan Teknik Feynman



1. Cari materi yang ingin kamu pahami dan cobalah pelajari serta pahami terlebih dahulu.

2. Tuangkan apa yang kamu pahami diatas secarik kertas. Ingatlah, tuliskan seolah-olah kamu sedang menjelaskan ke anak kecil berumur 6 tahun.

3. Apakah ada penjelasan yang masih belum jelas atau terlupa? Evaluasi, lengkapi dan perbaiki itu.

4. Sederhanakan kata demi kata yang dipakai. Anak kecil selalu penasaran terhadap hal kecil, seperti mengapa harus merubah kebiasaan, bagaimana cara mengetahui kebiasaan itu buruk atau baik.

Biasanya, saya melakukan teknik ini ketika telah selesai membaca beberapa lembar buku. Saya anggap itu adalah laporan membaca saya.

Berikut contoh hasil dari Teknik Feynman, saya mencoba membuat rumusan sederhana cara merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasan baik yang saya ambil dari buku The Power of Habit.



Maap kalau gak kebaca wkwk, maklum dari SD saya ga pernah bisa nulis dengan baik.

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba Teknik Feynman !!

Jangan lupa, bagikan ke teman mu agar sama-sama bisa menerapkan teknik ini dan berkomentarlah jika ada yang ingin ditanyakan. Sampai jumpa.

Comments

Popular posts from this blog

Seberapa penting sih Resolusi itu?